Postingan

Anggrek dan Nadia

Gambar
Fajar mulai beranjak naik. Perlahan tapi pasti. Bersinar diujung timur. Kemerahan. Langit seketika mulai benderang. Warna kebiruan mulai nampak menghias pandangan. Hawa sejuk mulai menyapa. Membelai lembut dedaunan yang masih basah oleh embun pagi. Kicau burung samar-samar terdengar dari kejauhan. Suara gemericik air tak kalah indah. Seperti melodi pengawal hari yang dimainkan penuh harmoni. Aku hanya menarik nafas panjang. Beruntungnya aku pagi ini, mampu menikmati pemandangan lukisan Tuhan yang tercipta begitu sempurna. Tanpa kurang sedikit pun. Cahaya dari bintang-bintang malam mulai berpendar terbias oleh terangnya fajar. Bulan sabit ditepi barat masih nampak meski terlihat seperti terbuat dari kapas. Waktu bergulir perlahan. Detik demi detik seperti telah diatur untuk berputar perlahan. Mengimbangi harmoni yang sedang dimainkan oleh alam ini.  Ku rentangkan kedua tangan perlahan. Senyumku mengembang. Kedua mataku ku pejamkan untuk menikmati udara pagi ini. Ingin ku ...

Cahaya Di Atas Luka

Hanya sebaris luka.Hanya setetes air mata. Hanya sebatas duka. Menyayat kalbu. Merintih pilu. Menahan malu.Aku dengan hidupku, tak ingin orang lain tau. Biar saja menjadi rahasia antara aku dan Tuhan ku. Masa lalu memberikannya kekuatan untuk terus bangkit. Meski jalan hidup ini penuh liku. Tidak seperti kertas putih yang suci belum ternoda oleh goresan tinta hitam. Pertikaian orang tua, keadaan ekonomi yang menghimpit hidup, sudah menjadi pengalaman pahit untuk seorang anak gadis yang masih duduk di bangku SMP kelas 3 ini. Masa yang seharusnya indah dan penuh canda tawa malah menjadi kenangan pedih yang harus dialaminya. Keadaan memaksa pikirannya untuk dewasa lebih cepat. Sebagai anak sulung, Ia harus bisa melewati ujian ini meski usianya saat itu masih belia. Senyum-senyum palsu menjadi tameng untuk menutupi luka yang menyayat hatinya. Pertanyaan-pertanyaan mulai hadir dan berkecamuk didalam pikirannya. Mengapa begini ? Mengapa harus kulalui semua ini ? Mengapa Tuhan begitu...

Ayah, Kau Tahu...

Gambar
iri rasanya melihat mereka yang mampu mencurahkan segenap kasih sayangnya padamu setelah kedudukan ibu yang 3 kali di atas mu iri rasanya melihat mereka yang menerima besarnya cinta dan kasih dari seorang ayah iri rasanya kala melihat mereka mendapat pelukan kasih sayang dari sosok berwibawa yang benama ayah iri rasanya kala mendengar cerita kedekatan mereka dengan sosok ayah iri rasanya kala senyum bahagia terpancar dari sosok seorang ayah karena kehadiran putra putrinya iri rasanya kala senandung cinta dan kasih itu mengalun ditengah keluarga yang bahagia iri rasanya aku iri mengapa tak ku dapat yang semua itu dari sosok mu ? mengapa malah kebencian yang kau hadirkan diantara kami ? mengapa malah emosi yang ku hadapi kala berhadapan dengan mu ? mengapa malah amarah yang menguasaiku kala melihat mu ? mengapa malah air mata yang kau beri kepada kami ? mengapa malah luka yang yang goreskan di hati kami ? mengapa tak ada sedikit pun kasihan itu hadir dalam hati mu...